Senin, 10 September 2012

Asal Mula


Intermezzo

Malam itu Ridhan duduk di tepi tempat tidur kamarnya yang cukup luas. Kasur empuk tidak bisa menggodanya untuk cepat tidur. Kira-kira malam itu menunjukan pukul sebelas malam. Ridhan menumpang hidup di rumah neneknya di Bandung karena orang tuanya bekerja di Tangerang. Masih mengenakan seragam SMA lengkap dia tampak kebingungan, bingung mau melakukan apa dan dia pun mulai menyalakan rokok kreteknya. Karena terlalu lelah dia pun mulai hilang konsentrasi. Nampak samar-samar perempuan menghampirinya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya panjang sebawah bahu, matanya sedikit sipit, kulitnya putih, badannya kecil namun ideal dengan tinggi sekitar 160cm. Perempuan tersebut mengenakan seragam SMA lengkap dengan roknya yang bergelombang ketika perempuan tersebut datang menghampiri Ridhan.
Perempuan tersebut langsung memeluk Ridhan yang sudah mulai kehilangan kesadaran. Karena terbawa suasana malam yang cukup dingin dan lingkungan yang sepi mereka pun berciuman. Nampak sangat bergairah. Tangan-tangan nakal pun mulai bergeriliya. Sepertinya testosteron Ridhan dan progresteron perempuan tersebut sudah mulai berpacu beriringan. Desahan-desahan kecil pun mulai terdengar. Keringat bercucuran layaknya sudah berlari 10 putaran lapangan sabuga. Ciuman perempuan tersebut pun turun kearah leher Ridhan. Kali ini ciumannya bergeriliya dileher. Dengan gesit perempuan tersebut melepaskan seragam SMA Ridhan yang masih dikenakan. Lalu perempuan itu pun mulai melepas kan kancing seragam SMAnya satu per satu, dan nampaklah pemandangan indah dihadapan Ridhan. Mereka pun berciuman lagi. Tangan-tangan jahil pun mulai bergeriliya di area terbuka.
Seketika perempuan tersebut melepaskan ciumannya dan berteriak “GOOOOLLLL!!!!”
Ridhan sedikit sadar, dan bingung dengan keadaan yang terjadi. Dia pun berpikir masa bodoh, dan dia pun ingin melanjutkannya. Serentak Ridhan pun ditampar dan perempuan tersebut teriak lagi. Perempuan tersebut teriak histeris sambil berkata “Liat woi gue ngegolin tuh ke gawang si boncel!”
Suara perempuan tersebut berubah yang tadinya halus sewajarnya perempuan menjadi sedikit berat dan kasar seperti laki-laki. Mukanya pun berubah menjadi laki-laki hitam, kurus, dan berjakun besar. Sedikit menyeramkan.
Ternyata Ridhan sedang bermimpi di siang bolong diantara teman-temannya yang sedang asik bermain Play Station 2. Ridhan pun tersadar dan mulai menyesali karena mimpinya tidak dia alami sampai akhir cerita.
“Sialan lu! Gue itu lagi asik-asik mimpi kenapa dibangunin?! Dibangunin gara-gara alesan yang ga penting pula.” Jawab Ridhan ketus.
“Emang lu mimpi apa sampe mendesah-desah gitu? Coba periksa celana tuh, basah atau ngga?” lanjut temannya Ridhan.
Ridhan pun terdiam di pojokan dan kesal karena telah di bangunkan. Teman-temannya yang berkumpul terlihat tertawa puas melihat kejadian tersebut.

Lengkong Kecil 53

“Krincing… krincing.. kringcing…” suara bel kecil yang berbunyi. Suara itu terus terdengar ketika Ridhan berjalan dan mulai membuatnya kesal di pagi buta. Waktu kira-kira menunjukan jam setengah enam pagi. Ridhan sudah mempersiapkan diri sepagi itu. Dia bangun jam setengah lima pagi dan harus segera mandi disaat keadaan sangat dingin sekali di kota kembang. Matahari belum menunjukan dirinya untuk menghangatkan hari. Ridhan pun memakai topi pak taninya yang di buat dari bungkus tahu sumedang yang dilapisi oleh kertas minyak warna putih. Dia mengenakan sepatu dengan kaos kaki berwarna berbeda dikedua sisinya, yang satu berwarna kuning dan yang lainnya berwarna biru. Tak lupa bel diikatkan dengan pita berwarna hijau dikedua mata kakinya. Sehingga setiap kali Ridhan melangkah terdengar suara-suara bel berkrincing dan itu sangat membuatnya muak. Akan tetapi mau tidak mau dia harus melakukannya. Ridhan pun sudah siap pagi itu, dengan mengenakan seragam dan celana SMP dia pun melangkah keluar rumah neneknya dan berangkat sambil membawa balon gas. Dengan gagah dia melangkah dengan diiringi suara-suara krincing bel mengenakan tas yang dibuat dari karung beras menuju tempat angkot ngetem. Dia pun naek angkot yang sudah penuh sesak dan berisikan orang-orang yang berpenampilan sama seperti dia dan berbarengan turun di ujung jalan Lengkong kecil. Mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu mengikuti masa orientasi masuk SMA.
“Stop! Cepat kalian berbaris dua banjar! Menunduk kalian! Jangan ada yang bersuara!”  teriak seorang laki-laki yang mengenakan seragam SMA lengkap dan rapih.
Gerombolan anak baru tersebut digiring masuk melewati gerbang SMA seperti gembala yang mengiring domba-domba yang dibantu oleh anjing gembalanya. Kegiatan masa orientasi siswa baru tersebut pun dilakukan didalam sekolah. Dari mulai tes fisik sampai mental pun dilakukan karena pada jaman tersebut kegiatan itu masih biasa dilakukan. Kegiatan itu dilakukan selama 3 hari berurutan mulai dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Ridhan masih banyak terdiam karena belum terlalu mengerti bahasa sehari-hari yang digunakan di Bandung.
Ridhan menempuh masa-masa SMAnya di Bandung. Ridhan yang lahir di Tangerang dan hidup di Tangerang sampai SMP memutuskan untuk hijrah ke Bandung karena ajakan kakaknya yang sudah dulu bersekolah di Bandung. Ridhan laki-laki yang berkulit sawo matang, bermuka pas-pasan namun badannya cukup ideal waktu itu. Ridhan melewati tahun pertama dengan nilai pelajaran yang cukup baik sehingga bisa masuk jurusan IPA sesuai dengan cita-citanya dari awal pindah ke Bandung. Tahun pertama dilewati, setahun Ridhan masih dalam masa penyesuain atau adaptasi dengan lingkungan baru. Dia mulai mengerti bahasa yang biasa digunakan sehari-hari di Bandung. Akan tetapi tidak terlalu banyak hal berkesan yang terjadi karena kehidupan yang berlangsung masih seperti kehidupan dia di SMP. Walau begitu Ridhan mulai bertemu orang-orang baru dengan bahasa sehari-hari yang baru juga dan watak yang bermacam-macam pula. Ridhan pun cukup antusias menjalani kehidupan barunya di lingkungan baru, lingkungan kota kembang dengan kembang-kembangnya yang bertebaran dimana-mana.

ROBO

Pagi itu cerah, matahari menyinari kota Bandung dengan indahnya memancarkan kehangatan yang menutupi dinginnya pagi. Embun-embun yang terbentuk akibat dinginnya malam pun mulai menguap karena malu akibat kehadiran matahari. Kicauan burung liar pun menambah kecerian di pagi hari. Ridhan pun yang berpakaian rapih dengan mengenakan celana SMA sempitnya dan kemeja yang dimasukan siap melewati hari-harinya di sekolah. Sambil mendengarkan mp3 BBB yang berjudul Let’s Dance Togather Ridhan pun berangkat, berjalan menuju tempat angkot ngetem menunggu penumpang. Di angkot Ridhan hanya terdiam sambil mendengarkan mp3, kali ini lagu yang diputar adalah lagu The Changcutters yang berjudul Pria Idaman Wanita.
Sampailah Ridhan ditujuan. Dia langsung berjalan menelusuri gerbang sekolah, dan melewati lorong kecil seperti gang yang sudah berjejer motor-motor yang diparkirkan dengan rapih. Lalu nampak lapangan basket yang luas. SMA Ridhan memang nampak kecil kalau dilihat dari luar namum dalamnya sangat luas. Ridhan berjalan pelan menuju lab biologi yang dimana sudah ditempelkan kertas-kertas pengumuman di kaca-kaca lab tersebut. Hari itu adalah pengumuman pembagian kelas penjurusan setelah liburan kenaikan kelas berakhir.
“Oi dim, gue masuk kelas apa? Lu udah liat belom?” tanya Ridhan kepada Dimas salah satu teman sekelasnya di kelas satu.
“Lu kelas IPA 6 tuh, kelas IPA yang paling bontot alias urutan terakhir.” Jawab Dimas sambil tertawa terbahak-bahak.
“Daripada lu masuk IPS, mending gue lah.” Balas Ridhan ketus.
Mereka pun tertawa sambil diteruskan mengobrol sebentar. Tak terasa bel sekolah pun berbunyi, mereka pun berpisah mencari kelasnya masing-masing. Tak perlu repot-repot Ridhan pun langsung menemukan kelasnya. Kelas IPA 6 itu menggunakan lab biologi karena pembangunan kelas yang belum beres jadi kelas IPA yang paling bontot tersebut menggunakan lab biologi dulu. Ridhan duduk di meja paling belakang yang berisikan laki-laki, dia terlalu malu untuk duduk didepan yang berisikan banyak perempuan. Bentuk meja lab yang berbentuk memanjang memungkinkan untuk ditempati sekitar 8-9 orang. Di lab tersebut terdapat 4 meja panjang.
Wali kelas pun datang dan langsung mengabsen. Satu per satu murid diabsen dari absen awal sampai akhir. Setelah selesai mengabsen pelajaran pertama pun dimulai. Pelajaran pertama adalah seni musik yang mana paling tidak disukai oleh Ridhan. Dengan sedikit tidak memperhatikan Ridhan pun mengikuti pelajaran. Karena memang tidak tertarik dan posisi duduknya yang dibelakang Ridhan pun tertidur. Cukup lama Ridhan tertidur sampai pelajaran pertama selesai. Lalu datang seorang petugas dari bagian kesiswaan sambil membawa beberapa berkas. Petugas tersebut berbincang sebentar dengan wali kelas IPA 6 lalu menyebutkan nama Ridhan. Ridhan yang sedang asyik mengarungi alam mimpi pun terbangun sambil tersentak karena kaget. Dia kebingungan dan tidak bisa berkata-kata, dia berpikir dia akan dimarahi karena tertidur di kelas. Akan tetapi ternyata dia dipanggil karena dia akan di pindahkan ke kelas baru, kelas IPA 4. Ridhan kebingungan, dia penasaran kenapa bisa dipindah kelaskan. Akan tetapi Ridhan sedikit senang karena dengan dipindahkan dia akan mendapatkan ruang kelas yang lebih layak dan peringkat kelas yang lebih tinggi.
Ridhan pun membereskan peralatan belajarnya dan berpamitan dengan teman-teman barunya di kelas IPA 6. Ridhan berjalan keluar kelas, melewati lorong-lorong koridor bangunan sekolahnya ditemani oleh petugas kesiswaan. Sampailah mereka berdua didepan ruang IPA 4.
“Ya dek, ini ruang kelas baru kamu, silahkan melapor ke guru yang sedang bertugas di kelas itu sekarang. Kalau ada apa-apa lapor saja ke saya.” Kata petugas kesiswaan itu.
“Terima kasih pak.” Jawab Ridhan kalem.
Ridhan langsung memasuki ruangan tersebut dan melapor kepada guru yang sedang bertugas disitu. Dia menjelaskan bahwa dia dipindahkan ke kelas tersebut. Setelah melapor Ridhan langsung memilih bangku tempat duduk. Dia memilih duduk di paling belakang karena bangku tempat duduk sudah terisi penuh. Ridhan pun duduk sendiri di paling belakang. Dia celingak-celinguk kebingungan karena waktu itu sedang berlangsung mata pelajaran fisika. Otak Ridhan yang masih bernuansa liburan karena baru selesai melewati liburan semester pun tidak bisa manangkap pelajaran. Sekali lagi, Ridhan pun tertidur.
Namun kali ini Ridhan tidur tidak terlalu lama, karena tidak lama setelah Ridhan tertidur datang satu lagi murid yang kelasnya dipindahkan. Setelah melapor dia langsung duduk disamping Ridhan. Ridhan pun tersadar karena ada seseorang yang datang. Karena mereka bernasib sama, maka mereka pun berkenalan.
“Oi bangun! Jangan tidur aja! Kenalin, gue Rusyanda, lu bisa manggil gue Iyan.” Dengan penuh percaya diri Iyan memperkenalkan diri.
“Oh iya, nama gue Ridhan, lu bisa manggi gue apa aja.” Jawab Ridhan yang masih pusing karena baru terbangun.
“Lu kelasnya dipindahin juga ya?” tanya Ridhan penasaran.
“Iya nih gue dari IPA 3.” Jawab Iyan.
“Berarti lu turun derajat dong ya?.” Canda Ridhan
Mereka pun tertawa bersama. Dan tidak terasa mereka berdua pun bisa langsung akrab. Iyan adalah laki-laki berkulit putih, kurus, berpostur tidak terlalu tinggi sekitar 160cm dan memiliki wajah seperti orang arab.
“Eh sekarang lagi pelajaran apa?” tanya Iyan.
“Fisika, gue asli ga ngerti sampe gue ketiduran ini.” Jawab Ridhan simpel.
Mereka berdua pun malah asik mengobrol. Penampilan warga kelas lah yang dijadikan topik obrolan. Topik obrolan mereka pun tertuju kepada sosok perempuan ramping berambut panjang. Bentuk badannya yang baguslah yang menjadi alasan mengapa perempuan itu dijadikan bahan obrolan. Ternyata Iyan sebelumnya sudah mengetahui nama perempuan tersebut adalah Rachmi. Menurut Iyan, Rachmi adalah sosok perempuan yang cukup populer di angkatan mereka. Ketika sedang asik-asiknya ngomongin Rachmi sambil memandanginya yang duduk tidak jauh didepan mereka, Rachmi pun menoleh ke arah mereka. Serentak mereka pun langsung membuang muka. Ridhan langsung berpura-pura tidur dan Iyan langsung berpura-pura mencari buku didalam tasnya. Kejadian konyol tersebut membuat Rachmi tersenyum.
Tidak lama dari kejadian tersebut guru yang sedang mengajar tiba-tiba mengumumkan bahwa akan diadakan ulangan.
“Apa-apaan ini? Baru pertemuan pertama udah ulangan aja. Gimana nih yan?” Protes Ridhan.
“Yaudah deh, kita pasrah aja.” Jawab Iyan lesu.
Ulangan pun dilakukan. Soalnya berjumlah 4 buah dan diberi waktu hanya 30 menit karena jam pelajaran akan berakhir. Ridhan kebingungan karena dia sama sakeli tidak mengerti pelajaran yang diajarkan. Dia mau menyontek ke Iyan, tetapi dia tau kalu Iyan pun pasti bernasib sama dengannya. Mau bertanya ke orang lain, tetapi dia belum mengenali orang-orang di kelas itu. Hanya Iyan yang baru dia kenal. Ridhan pun mengikuti saran dari Iyan, dia hanya bisa pasrah.
Ulangan pun selesai, semua kertas jawaban dikumpulkan. Setiap murid maju ke meja guru untuk mengumpulkan jawaban mereka masing-masing. Ulangan pun diperiksa dan dibagikan pada hari itu juga. Terkaget setengah mati Ridhan melihat nilai yang di dapatkannya. Ridhan mendapatkan nilai nol. Dia pun melihat ke arah Iyan yang terduduk lesu di bangkunya.
“Dapet nilai berapa yan?” tanya Ridhan.
Iyan pun terdiam sejenak dan menjawab lesu, “Dapet nol dhan.”
“Wih sama, gue juga.” Sambung Ridhan.
Mereka langsung tertawa bersama kegirangan dan melakukan tos. Suasana haru pun berubah menjadi gembira. Karena sama-sama mendapatkan nilai nol mereka langsung merasakan bahwa mereka tidak mendapatkan kesialan itu sendiri. Hari pun berganti hari mereka pun semakin akrab dan berniat melebarkan sayap pergaulan. Sudah banyak orang yang mereka kenal di kelas tersebut. Mereka berkenalan dengan penghuni meja didepan mereka yang akhirnya di ketahui namanya adalah Banyu dan Ahmad. Banyu adalah laki-laki berbadan agak gemuk, bertinggi badan hampir sama seperti Ridhan, berkulit putih karena dia keturunan Tiong Hoa. Ahmad berbadan lebih mirip Iyan, keturunan Jawa. Mereka juga berkenalan dengang penghuni meja disamping mereka. Diketahui ada Adit dan juga Akbar. Adit laki-laki berbadan besar dan tinggi, berkulit sawo matang, asli keturunan Sunda. Akbar berbanding terbalik dengan Adit, Akbar memiliki badan lebih mirip dengan Iyan, dia agak pendek dan kurus, hanya warna kulit yang membedakannya dengan Iyan, asli keturunan sunda. Didepan mereka ada Ewin dan Toro. Ewin berbadan kurus dan tinggi, kulitnya sawo matang, dia keturunan Palembang namun lama tinggal di Lampung. Toro berbadan atletis karena dia merupakan atlet futsal, berkulit sawo matang, keturunan Jawa. Bertambah lagi crew yang ada. Ahmad jarang berbarengan jadi hanya mereka bertujuh yang selalu kemana-mana berbarengan. Berkumpul sehari sekali pun menjadi rutinitas yang selalu mereka bertujuh lakukan. Agar lebih akrab, merekan pun menandai satu sama lain dari ciri-ciri fisik mereka masing-masing. Ridhan yang memiliki bibir tebal maka dipanggil dower. Iyan yang memiliki fisik pendek dipanggil boncel satu. Akbar yang memiliki fisik pendek seperti Iyan dipanggil boncel dua. Adit yang memiliki badan besar seperti raksasa dipanggil atub satu. Atub adalah kebalikan dari kata Buta yang berarti raksasa dalam bahasa sunda. Banyu yang memiliki badan tambun disebut atub dua. Toro yang memiliki lingkar mata yang luas atau belo disebut mata. Toro pun terkadang dipanggil ustadz, karena dia aktif di kepengurusan mesjid sekolah. Ewin yang berkulit agak gelap disebut item satu, karena Ridhan memiliki kulit yang gelap juga jadi kadang-kadang disebut item dua akan tetapi Ridhan lebih sering disebut dower. Mereka bertujuh  sepakat menyebut kelompok mereka Robo, karena dari nama panggilan masing-masing yang mencirikan fisik masing-masing dan jika digabungkan akan seperti robot androit yang menginfasi bumi. Robo melewati hari-hari di SMA bersama-sama, suka duka mereka lewati bersama.

End of Part 1

Kamis, 31 Mei 2012

Tons of May


Ini cerita tentang kejadian di bulan Mei, dimana gw mencoba bertahan hidup dari serangan yang bertubi-tubi kegalauan yang melanda. Kenapa kegalauan bisa menyerang mahasiswa yang cuek akan keadaan seperti gw? Gw sendiri aja gatau. Mungkin emang jalan cerita yang ditentukan oleh Allah emang begini adanya. Kegalauan ini dimulai dari awal bulan Mei dimana gw baru aja ditinggal (dimainin) sama seorang cewek yang akhirnya dia jadian sama sahabat deket gw sendiri. Jalan cerita gw sebenernya 70% sama persis dengan cerita Tom di film 500 Days of Summer yang gw pinjem beberapa hari yang lalu dari sahabat gw yang jadian sama mantan gw itu. Alhamdulillah hubungan gw sama sahabat gw yang satu ini baik-baik aja sampai sekarang, tapi dengan mantan gw yang itu gw belom bisa bertegur sapa.

Sebenernya berat banget ngejalanin hidup seperti ini, setiap gw berdoa gw selalu betanya kenapa ini semua terjadi sama gw? Kenapa sahabat gw? Sebenernya kita putus baik-baik, tapi kekacauan terjadi setelah dia cerita dia suka sama sahabat gw. Ketololan pun selalu gw lakukan, gw kabur dari kosan terus nginep dikosan temen gw yang lainnya. Gw balik ke kosan kalo mau ngambil baju ganti aja, sisanya gw abisin waktu diluar entah itu di kosan temen atau luntang-lantung di pinggir jalan. Gak biasanya gw bisa ngabisin 2 bungkus rokok sehari. Makan hampir ga pernah, kalo makan juga cuma sekali sehari dan itu pun ga abis, tumben-tumbenan bener biasanya gw makan banyak banget dan paling cepet abis kalo lagi makan bareng temen-temen. Gw menutup diri dari orang-orang. Seminggu gw lewati masa-masa tersuram dalam hidup gw itu. Berat badan gw turun drastis, kalo kuliah kerjaannya tidur dikelas.

Di hari keenam saat masa-masa suram itu gw putuskan buat ngunjungin nenek gw di Buah Batu, Bandung. Gw pengen banget ketemu nenek gw waktu itu. Nenek yang sekaligus jadi orang tua gw yang ngurusin gw selama gw SMA di Bandung. Gw renungin sendiri di kamar, tiba-tiba nenek gw dateng dan bertanya “Kamu sakit dho?” gw jawab aja gw ga sakit dan gw ceritain semua masalah gw dan semua yang gw alamin seminggu terakhir. Nenek gw pun memberikan banyak nasehat dan jalan keluar. Yang paling gw inget sih “Seperti nama kamu Ridho, ridhoin aja lah cewek kayak gitu mah, terbang satu yang hinggap ada seribu nantinya. Udah tong ngarokok wae atuh kasep!” Setelah denger itu gw langsung nyengir, dan nyengirnya lebar banget. Gw langsung matiin rokok dan gw tegasin ke diri gw sendiri kalo gw harus bisa terus melanjuti hidup.

Gw mencoba mulai membuka diri lagi ke semua orang-orang. Gw cukur rambut gw yang waktu itu gondrong ga jelas temanya apa tuh rambut. Gw cukur kumis sama jenggot yang tumbuh ga karuan dan nampak seperti akar gigi yang tumbuh di atas dan bawah bibir. Kalo sanggup juga bulu ketek juga gw cukur waktu itu, cuma susah banget nyukur bulu ketek dan gw terlalu malu buat minta tolong ke temen atau ke tukang cukur sekali pun. Itu semua gw lakukan sebagai langkah awal gw move on (dibaca: mufon) untuk membuang sial. Hari-hari pun berlalu, gw mencoba berubah, gw pulang dan tinggal lagi di kosan. Gw kumpulin semua barang-barang pemberian mantan gw dan gw kembaliin semua biar kosan gw bersih dari sampah-sampah masa lalu.
Weekend pun bisa gw lewati dengan baik, satnite ga punya pacar gw pikir “Ah bodo amat!” Karena waktu itu ada libur di hari Kamis dan hari Jum’atnya dijadiin cuti nasional gw putuskan untuk pulang ke Tangerang ketemu sama orang tua gw. Gw pulang naek prima jasa yang kearah Lebak Bulus. Gw samperin deh tuh pol bis primjas yang ada di Cileunyi, dan gw ga nyangka banget banyak banget yang ngantri buat naik bis. Bis pertama datang langsung diserbu orang-orang dan gw cuma bisa celingak-celinguk liat kejadian itu, yaudah deh gw nunggu lagi. Bis kedua dateng dan kejadiannya masih sama akhirnya gw nunggu lagi. Kejadian itu terus terjadi sampe kedatangan bis kelima, dan bis itu dateng setiap setengah jam sekali. Di kedatang bis kelima itu gw putuskan buat nekat desek-desekan berebut masuk dan akhirnya berhasil tapi gw harus duduk di paling belakang dan gw bersender ke kaca belakang dari bis dengan posisi kaki terlipat dan gw harus nahan itu selama 4 jam perjalanan.

Satu jam : kesemutan mulai kerasa.
Sejam 13 menit : kesemutan makin menjadi-jadi.
2 jam 42 menit : saking parahnya kesemutan sampe mati rasa dan gw putuskan untuk tidur.
3 jam 12 menit : gw pindah duduk ke bangku karena sebagian penumpang udah turun dan kesemutan pun terobati.
3 jam 57 menit : sampe lebak bulus dan suhu udara pun berubah dari yg tadinya dingin jadi panas.

Langsung gw telpon nyokap minta buat dijemput karena gw udah ga sanggup lagi kalo harus ngelanjutin perjalanan naek angkot melewati kemacetan Ciputat, bisa-bisa gw jackpot diangkot nantinya. Gw nungguin aja tuh sejam didepan halte busway Lebak Bulus.

3 menit : gw mulai keringetan gara-gara panasnya Jakarta.
10 menit : gw putuskan untuk nyari warung karena dehidrasi mulai melanda.
15 menit : gw dengerin mp3 sambil minum mijon.
30 menit : baterai mp3 gw abis dan gw kebingungan karena ga ada hiburan lagi.
32-47 menit : nelponin nyokap yang tak kunjung datang.
51 menit : masih nelponin nyokap dan mulai panik gara-gara kegerahan.
58 menit : nyokap bokap dateng dan gw dimarahin gara-gara gak sabaran.

Gw lewati kehidupan di rumah seperti di surga. Ditempat gw dilahirkan dan menjalani kehidupan sampe lulus SMP. Gw makan teratur, tidur teratur, rokok tinggal minta ke kakak gw. Dan sebuah kejutan yang ga gw sangka pun terjadi, tiba-tiba gw dibeliin blackberry. Padahal bokap nyokap belom lama dikirimin surat dari UNPAD yang isinya transkrip nilai gw yang acak kadut. Berat badan gw pun naek drastis. Gak percuma gw menderita di perjalanan menuju rumah. Dan pada saat weekend tersebut bertepatan dengan ultah bokap, makin gembur deh badan gw.

Setelah kejadian dirumah tersebut gw sadar kalo Allah itu sangat sangat sangat maha adil. Setelah gw melewati kesuraman di awal bulan gw diberi kenikmatan yang luar biasa di akhir bulan. Kenikmatan ga berakhir sampe disitu, kenikmatan ini masih terus berlanjut. Gw mulai bisa menerima keadaan. Gw cari kesibukan, gw terima jabatan logistik di kepanitiaan field trip. Gw mulai semangat hidup lagi. Gw terima tawaran psikotes di Fakultas Psikologi dari salah satu sahabat gw. Sebenernya gw tau gimana menyeramkannya psikotes itu apalagi pas bagian ngitung kumpulan angka di kertas yang selebar koran. Tapi itu semua gw terima aja dengan alesan gw pengen ketemu sesuatu yang baru dalam hidup gw biar gw lupa sama kesuraman yang udah terjadi di awal bulan.

Dalam kegiatan logistik yang gw terima gw diharuskan mencari barang-barang keperluan buat fieldtrip dan barang-barang itu banyak yang gw gatau. Kenapa ga tau? Karena gw sebenernya lupa-lupa inget sama perlengkapan diving. Tapi disekitar gw banyak banget yang bantuin gw dan mau ngajarin (lagi) gw tentang peralatan diving. Di salah satu hari saat gw ngumpulin semua perlengkapan logistik gw putuskan buat maen ke rumah temen gw di daerah Ciwastra, Bandung. Gw masuk ke kamarnya, dan gw liat tembok kamarnya penuh dengan quote-quote dari orang-orang yang udah ngunjungin kamarnya. Disalah satu quotenya gw liat ada quote dari salah satu sahabat gw, isinya “Kalo ada yang jahat sama kita biarin aja, jangan dibales dengan kejahatan, maafin aja. (Komenk)” kira-kira seperti itulah isinya. Setelah gw baca itu gw pikir bener juga nih quotenya si Komenk dan gw makin semangat aja buat move on dan ngelupain kesuraman yang pernah terjadi. Gw juga nulis ditemboknya seperti ini “Persahabatan itu penting bro! apa pun bakal urang lakukan demi persahabatan, pacar pun bakal urang kasih buat sahabat mah. (idhorachman).” Setelah nulis itu gw pikir-pikir quote gw sadis banget ya. Ngasih pacar ke sahabat sendiri, wew! Cukup sekali deh gw ngelakuin ini, ga akan lagi dan gw udah ikhlas dengan kepergiannya. Mungkin aja dia lebih baik bareng sahabat gw daripada sama gw atau itu hanya sebuah obsesi nafsu yang berlebihan dari mantan gw? Who knows? And I don’t care anymore.

Seperti Tom yang kecewa ditinggal Summer lalu dia mulai mencari kesibukan mencari pekerjaan menjadi seorang arsitek dan akhirnya bertemu dengan Autumn ditengah kesibukannya itu, semoga aja suatu hari nanti gw bisa nemuin Autumn-nya gw. (Summer dan Autumn itu nama cewek bukan berarti musim panas dan musim gugur)

Jumat, 27 April 2012

Wednesday I'm in Love


Okeh! Kali ini gw mau cerita tentang pengalaman gw yang belom lama terjadi. Kira-kira ini kejadian tuh terjadi sekitar beberapa bulan yang lalu. Belom lama, di semester 6 ini kejadiannya. Jadi ini mengisahkan tentang salah satu sohib gw orang Jakarta. Dia temen sekelas gw, satu angkatan sama gw. Kita samarin aja ya disini namanya. Jadi nama sohib gw ini Dira, dia cowok. Dia itu suka sama cewek anak FTIP angkatan 2011 padahal dia udah punya pacar di Jakarta. Yaudah kita sisihkan dulu pacarnya yang di Jakarta, karena cerita ini bakal lebih fokus ke bagaimana dia bisa kenalan sama cewek FTIP’11 ini.

Waktu itu hari Rabu kalo ga salah, beres kuliah Amdal. Seperti biasa kita ga ada kerjaan kalo abis kuliah beres. Kita ngobrol-ngobrol aja di deket kantin di koridor kampus. Bercanda gurau ga karuan sambil ngeceng-ngeceng cewek yang berlalu-lalang di hadapan kita. Seperti biasa si Dira dan Wimal selalu tampil paling depan kalo dalam kegiatan keceng-mengeceng ini tapi yang lebih vokal itu si Wimal. Udah sejam kita nongkrong di koridor terasebut lalu lewatlah rombongan anak-anak dari fakultas FTIP angkatan 2011. Dira yang sedang berdiri di tengah dan bervokal tinggi dalam kegiatan keceng-mengeceng ini tiba-tiba terdiam. Kita pun sempat terdiam dan berpikir, “Ada apa ini dengan si Dira?” Ternyata eh ternyata, dalam rombongan tersebut ada salah seorang cewek yang dia keceng. Sebenernya ini bukan kali pertama dira bertemu dengan cewek itu. Kita sebut saja nama ceweknya Cinta.

Alkisah kita pun tertawa serentak setelah mengetahui yang sebenarnya. Seorang playboy seperti Dira bisa terdiam di hadapan cewek. Setelah mengetahui hal tersebut akhirnya kita pun merencanakan sebuah operasi perkenalan. Kita mengintai Cinta yang sedang bersenda-gurau di parkiran motor dari jauh. Kita perhatikan setiap gerak-gerik Cinta dan teman-teman cowoknya yang keliatan kegenitan. Ketika Cinta terlihat akan meninggalkan parkiran motor Dira bergegas mengambil motornya yang diparkirkan di tempat parkir yang berbeda. Kita tetap mengawasi Cinta dari jauh. Kali ini komunikasi dengan Dira dilakukan dengan handphone. Sampelah Dira ke gerbang parkiran dimana Cinta berada. Dia menunggu disitu, terdiam dan membisu ketika Cinta lewat. Padahal rencana awalnya Dira disitu bakal langsung ngajak kenalan dan nawarin tumpangan, tapi apa daya raga Dira tak mampu. Jadi dia hanya terpaku disitu, bahkan dia kalah sama tukang ojek yang jago nawarin tumpangan ke orang-orang.

Apa daya plan A gagal total. Tapi saat itu kita dapet sedikit informasi kalo Cinta mau ke ladang. Nah! Masalahnya ladang yang mana? Ada banyak ladang di UNPAD. Maka dari itu kita memutuskan untuk meluncur ke Gedung 4, tempat dimana kita biasa melakukan praktikum KBHL (Kimia Bahan Hayati Laut). Disana kita tetap kebingungan. Tanpa sadar kita menanyakan ke ibu kantin yang ada di bawah tangga. Kata si ibu ladang FTIP mah yang ada di fakultas FTIP. Kita bergegas menuju fakultas FTIP jalan kaki saking paniknya. Kenapa kita panik? Soalnya takut si Cinta keburu pulang. Jalan kaki lah kita menuju fakultas FTIP. Melewati fakultas Pertanian dan Peternakan. Sampelah kita di kantin Fapet yang baru. Disitu lagi-lagi kita kebingungan. Ladang udah didepan mata padahal. Disitu kita kebingungan karena di sekitar ladang ada banyak anak FTIP yang lagi nangkring dan ga ada yang berani diantara kita untuk nemenin Dira masuk ke ladang. Setelah dilakukan diskusi akhirnya kita memutuskan bahwa plan B juga gagal.

Depresi, stress, akhirnya kita memutuskan untuk pulang aja. Dira pun berpikir mungkin ini bukan waktunya buat kenalan. Walaupun disepanjang perjalanan dia masih bisa bercanda cekakak-cekikikan tapi tetep aja dia keliatan kecewa. Kita pulang pelan-pelang ga terlalu ngebut. Kita melewati fakultas FTIP, Pertanian, MIPA, Psikologi, Kedokteran, FKG, lalu turung ke gerbang bawah. Keluar dari gerbang kita melewati pangdam, lalu semua keajaiban datang. Dengan sigap mata Dira menangkap Cinta yang sedang berjalan menuju pangdam untuk naek bis Damri. Kita pun sontak memberhentikan motor kita. Udah dikasih kemudahan kayak gitu tetep aja si Dira ga berani buat kenalan langsung, jadi dia meminta tolong Indri buat nanyain namanya. Jadi gini strateginya, Indri nyamperin mereka dengan berpura-pura jadi panitia seminar nasional yang waktu itu bakal diadain jurusan gw sama Himitekindo. Dia samperin deh tuh rombongan si Cinta dengan bermodalkan pura-pura jadi panitia semnas. Dia tanyain deh namanya dan dia pinta nomer handphonenya juga. Dira pun senang, usahanya tidak berakhir sia-sia. Kenalah dah tuh si Dira sama si Cinta, tapi lewat sms-an. “Gak apa-apalah yang penting gw tau namanya Cinta dan dapet nomer handphonenya!” kata Dira kegirangan sambil nyium-nyium foto Cinta yang dia dapet secara candid. Plan C pun sukses.

Sebenernya sih salah si Dira kenalan sama cewek lain ketika dia lagi punya pacar, tapi ada satu pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini, yaitu usaha Dira yang gigih buat kenalan sama si Cinta. Kita harus merencanakan semuanya, ga harus plan A atau plan B aja, kalo bisa plan C juga ada.

Wassalam.

Selasa, 20 Maret 2012

just poems

inilah hasil dari kegalauan gw akhir-akhir ini..

Dan Dia (#nomention)

cerita ini kan terus menghantuiku
bagian yang berakhir selalu terulang
berpaling pada dia seperti candu
tidak akan terlalu lama terulang

dan selalu datang dengan indah
dan pergi terlalu cepat
membuatku lupa terlalu mudah
pengakuan ini selalu tidak sempat

dan dia pun datang lalu pergi
membuatku rela melepas dirinya
jangan pernah tanya ini terjadi
hanya dia yang ada sebenarnya

Jangan Berakhir

dijalan sepi ini ku terus mencari
dikeheningan malam dunia sepi
angin malam yang berhembus menemani
sosok yang mampu menerangi seakan pergi

engkaulah sosok penerang itu
engkau seakan ada tapi lenyap cepat
engkau seperti kilatan petir yang berderu
engkau muncul sepintas dan hilang cepat

jangan pergi lagi, biarkanku menikmati ini
kutakkan meminta lebih, hanya kau disini
jangan berakhir, biarkan semua mengalir
mengisi hari ini, yang tak pernah kau isi

Senin, 20 Februari 2012

How I Met Your Little Brother


Udah lama juga ya blog gw ini ga di update. Sekarang gw mau nge-update sedikit. Gw mau nyeritain cerita yang semoga menarik. Hari ini di hari pertama gw masuk kuliah di semester enam gw ngerasain males banget buat berangkat ke kampus. Masih dalam suasana liburan kayaknya ini. Liburan kemaren sebenernya banyak gw isi dengan kegiatan maen game online. Gw maen Digimon Master Online. Gw terpengaruh sama temen deket gw si Isan. Awalnya sih emang gw ga tertarik, sampai pada suatu saat gw mengalah untuk meng-iyakan ajakan dari dia untuk bermain game tersebut. Gw mulai maen game itu, lama-lama gw mulai merasakan asiknya maen game tersebut, yaudah deh gw jadi ketagihan dan udah cukup sukses menjalaninya. Kerjaan gw di kosan selama liburan cuman tidur, makan, solat, terus maen game. Terus-terusan aja berulang-ulang, tapi gw cukup menikmatinya daripada gw mengisi liburan dengan kegiatan organisasi di kampus mending begini aja dah.
Sampai di suatu hari ketika liburan semester hamper usai, ada ajakan dari salah satu teman saya untuk menemani dia ke Tangerang untuk menemui pacarnya. Dia minta tolong ke gw soalnya dia tau gw sering ke rumah orang tua gw di Tangerang, lebih tepatnya di Tangerang Selatan. Gw sulit nolak juga soalnya dia udah nyogok pake kue Kartika Sari. Yaudah dah deal tuh akhirnya gw berangkat nemenin dia buat proyek cintanya. Sekali lagi gw jadi saksi sebuah pengorbanan cinta. Fix akhirnya gw berangkat dari Bandung hari Rabu naik bis umum dari terminal Leuwi Panjang. Awalnya gw di jemput dulu di kosan gw di Jatinangor, terus kita naek motor ke arah Buah Batu, tepatnya rumah nenek gw, buat naro motor. Dari situ kita naek angkot ke terminal. Selama perjalanan Alhamdulillah ga ada halangan yang berarti, lancar aman tentram sampe terminal.
Sesampenya di terminal, kita langsung nyari bis yang menuju Merak, karena kita berencana turun di daerah Kebon Nanas, Tangerang, dan bis yang menuju Merak tersebut melewati Kebon Nanas. Kita menaiki bis yang bewarna kuning. Gw terlihat sangat riweuh karena membawa tas ransel dan tas gendong yang berisikan cucian-cucian kotor. Sedangkan teman gw cuman bawa tas selempang doang. Gw duduk deket kaca dan dia duduk disebelah gw. Terlihat sangat so sweet sekali. Sepanjang jalan gw cuman meladeni pertanyaan-pertanyaan dia tentang keadaan di Tangerang. Gw cuman bisa jawab seadanya, soalnya udah lama juga gw ga tinggal di Tangerang lagi. Setelah beberapa saat setelah sesi tanya jawab, keadaan pun mulai hening, kantuk pun mulai terasa, terlelap lah kita di dalam perjalanan.
Ketika tersadar, kita sudah memasuki kawasan Jakarta, kita melewati tol dalam kota Jakarta. Sambil ditemani film Dendam Si Pitung yang di putar sama kenek bis, kita melewati kota Jakarta. Teman gw masih terheran-heran ngeliat Jakarta. Dia terpesona dengan keadaan kota Jakarta. Keadaan macet dimana-mana dan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi terlihat keren dimata dia. Dia belom tau aja kerasnya hidup di Jakarta. Macet banget di tol dalam kota Jakarta ini, bete aja gw dengan keadaan ini. Berbeda dengan teman gw yang satu ini, dia masih keliatan sumringah, seneng banget keliatannya, gara-gara mau ketemu sama pacarnya mungkin ya. Sekitar jam sembilan malam kita sampe di daerah Kebon Nanas. Ketika turun dari bis dia langsung teriak dengan nada bahagia,“Aing ulin ka Tangerang euy!”. Gw cuman bisa ketawa aja liat kelakuan dia, dan dia pun ketawa. Dari situ kita masih harus naek angkot lagi buat mencapai rumah orang tua gw di daerah sekitar Serpong. Kita sekali naek angkot tapi sampe pemberhentian terakhir angkot tersebut, jadi ongkosnya pun rada mahal. Singkat cerita sampe lah kita di tempat tujuan. Sampe rumah sekitar jam 10 malam. Kita di sambut sama kedua orang tua gw, temen gw awalnya malu-malu tapi akhirnya bisa santai juga di rumah gw dan melewati perbincangan cukup menarik bareng babeh gw sampe larut. Tidur lah kita setelanya.
Esok harinya kita janjian ketemuan sama si pacar dia di depan gerbang komplek rumah orang tua gw. Janjian jam sepuluh tapi di jemput jam setengah sebelas. Dia ngejemput kita yang nungguin di sebuah halte didekat situ. Kaget sedikit karena ternyata si pacar temen gw itu bawa adeknya. Gw sih cuek aja tapi disinilah awal dari perjuangan temen gw. Adeknya pacar temen gw tuh pemalu banget, kalo sama orang yang dia ga kenal pasti dia buang muka, ga bisa di ajak ngobrol, di tawarin apapun ga mau. Pokoknya nolak terus aja tuh adeknya kalo lagi deket sama orang baru. Selama perjalanan terlihat dia mulai ngedeketin adeknya yang pemalu itu, tapi apa daya dia selalu di cuekin. Saking pemalunya tuh anak kecil, dia sampe ga sadar kalo belom pake celana ketika ketemu sama kita. Mungkin niatnya mau nyuekin tapi dia sampe ga sadar kalo ga pake celana dan cuman pake popok doang. Pemandangan seperti ini terus gw dapetin selama jalan bareng mereka. Ada satu momen yang menurut gw cukup menarik pada kegiatan jalan ini. Ketika di suatu mall, tersirat sebuah ide untuk meninggalkan pacarnya temen gw dan adeknya itu berdua aja sementara di sebuah kolam bola. Pergilah gw sama temen gw buat keliling-keliling sebentar dan meninggalkan mereka berdua. Tampa sepengetahuan mereka, kita sebenernya memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Kita pengen tau reaksi si adek kecil ini kalo gw sama temen gw ga ada. Dan ternyata dia menanyakan banyak pertanyaan kepada kakaknya. Ketika gw sama temen gw dateng nyamperin dia langsung buang muka lagi. Juju aja gw udah sedikit bingung ngadepin anak kecil kayak gitu. Soalnya biasanya kalo anak kecil ketemu sama gw nangis, lah ini malah malu-malu.
Berbeda dengan gw, temen gw masih semangat ngebongkar rahasia yang ada didalam diri anak kecil itu. Berjam-jam dia dicuekin, gw  mah udah nyerah dan cengengesan aja liat temen gw gagal terus alias di cuekin terus. Gak kerasa udah sampe jam makan siang. Kita memutuskan buat makan di Food Court yang ada didalem mall itu. Pilih-pilih tempat makan akhirnya kita milim makan ditempat jualan ayam. Kalo diliat dari posternya sih kayaknya sedap nih ayam. Tanpa mikir panjang gw pilih ayam bumbu pedas. Temen gw , sama pacarnya mesen ayam bumbu kari. Sedangkan adeknya makan corn soup. Ini adalah pengalaman pertama gw makan ayam sama nasi menggunakan sendok-garpu plastik. Gw cuek aja makan, dan ternyata sulit makan ayam sama nasi menggunakan sendok-garpu plastik. Demi menjaga suasana gw bela-belain makan dengan cara yang sangat sulit ini. Ditambah lagi dengan rasa pedas dari makanan yang rasanya sangat menyiksa. Ga kerasa keringet bercucuran. Gw liat juga adeknya pacar temen gw suka curi-curi pandang ke arah gw dan temen gw. Kayaknya dia mau ketawa ngeliat kelakuan bodoh gw tapi dia malu. Apalagi ketika sendok gw patah dan akhirnya gw makan pake garpu plastik.
Beres makan gw sama sekali ga merasakan rasa nikmatnya kenyang setelah makan dengan puas, yang gw rasa gw kepedesan. Kita memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju mobil di parkiran, temen gw masih aja nyoba buat ngedeketin adek pacarnya. Dan balesannya tetep dicuekin. Sampe akhirnya suatu momen terjadi. Ketika beres ngambil uang di ATM. Pemandangan yang indah akhirnya gw liat. Temen gw akhirnya bisa menggandeng tangan si adek dari pacarnya dengan pacarnya menggandeng adeknya juga disisi lainnya. Gw mikir dalem hati akhirnya bisa juga tuh anak kecil nanggepin usaha temen gw. Yang keliatan itu seperti pasangan suami istri yang menggandeng anaknya bersama-sama. Yah akhirnya. Ketika di mobil pun adek dari pacar temen gw itu udah mau nanggepin omongan dari temen gw. Gw sih selama di mobil diem aja. Akhirnya gw di drop di gerbang komplek rumah orang tua gw. Gw berpisah dengan mereka disitu. Karena temen gw juga mau langsung pulang ke Bandung. Dia dianterin sama pacarnya ke terminal Lebak Bulus. Gw pun pulang ke rumah.
Gw salut sama niat temen gw ini. Dia dateng jauh-jauh buat ketemu pacarnya. Walaupun tadinya dia tuh maunya ketemu sama orang tuanya, tapi masih belom dapet ijin dari pacarnya. Jadi dia deketin dulu adeknya yang paling kecil. Itu pun ga mudah buat ngedeketin adeknya. Apalagi bokapnya yah. Tapi gw salut dah sama dia. Sekali lagi gw jadi saksi sebuah pengorbanan cinta.

Jumat, 06 Januari 2012

Chapter 5 of 366 : Paralon's Day


Hari ini dimulai ketika alarm dari jam gw bunyi ketika waktu menunjukan jam 7 pagi, gw terbangun sedikit dan memutuskan untuk tidur lagi sebentar karena  pengen ngelanjutin mimpi indah ketemu kecengan yang waktu itu gw buatin lagu. Niatnya mau tidur setengah jam lagi, eh taunya gw kebablasan sampe satu jam. Padahal jam 8 itu gw udah janjian sama temen-temen mau ngumpul didepan Ciseke, Oh I’m sorry guys. Dan ternyata si Aul dan si Abdan juga bangunnya jam 8. Jadi ga enak aja sama Afdhal yang udah bangun lebih pagi buat nyari mobil sewaan. Hahaha maaf Afdhal karena keterlambatan kita bangun ngumpulnya jadi jam 9.

Ngumpul lah kita didepan gerbang Ciseke besar, dan terlihat ada mobil Avanza silver dan gw pun dapet firasat baik pas pertama ngeliat mobil itu. Lalu kita teringat kepada seorang mas-mas ganteng bernama Ichsan Hardiman yang keputusan ikut atau nggaknya masih ngegantung. Kita samper lah dia ke kosannya di daerah GKPN. Awalnya dia ga bisa ikut karena pacarnya dari Jakarta mau datang, tapi dengan sedikit nego sama pacarnya dia akhirnya mau ikut dengan sogokan kue strawberry cheese cake. Berangcut lah kita tapi sebelumnya kita isi bensin dan nganterin Ahmad Arif Hadyan dulu ke dekanat yang waktu itu lagi ada dikosan si mas ganteng maut.
Kita berangkat lewat Soekarno-Hatta karena pengen jemput Wimal di Riung dulu. Selama perjalanan kita masih browsing-browsing tempat paint ball yang murah lewat internet. Kita ngebanding-bandingin harganya, tapi sedihnya kenapa yang ada di internet mahal-mahal semua. Di temani lagu dari flask disk kita melaju menuju daerah Riung Bandung. Sampe lah kita di tempat janjian ketemuan sama Wimal, dideket sebuah jembatan di sekitar Soekarno-Hatta. Kita menunggu 5 menit belom juga Nampak si Wimal, kita menunggu 10 menit belom juga Nampak, di menit ke 15 akhirnya dia datang juga. Maklum lah dia harus melewati sawah dulu untuk menuju tempat janjian.
Tujan kita selanjutnya adalah ngejemput Adel di daerah Kiara Condong. Selama perjalanan terlihat Abdan udah ga sabar banget ketemu Adel, gatau kenapa dia selalu menunjuka hasrat bersemangat pengen ketemu hahaha. Kita sempet sedikit terhambat di lampu merah samsat. Macet pisan di daerah situ mah. Kita juga sempet ngajak Agung yang notabene orang lembang biar kita ada guide disana, tapi dia lagi pergi ke Purwakarta. Kita juga sempet ngajakin Aji tapi dia d sms ga di bales, telepon juga ga di angkat. Sampe lah kita di tempat janjian ketemuan sama Adel, dan Abdan pun yang daritadi berkicau tiba-tiba terdiam.
Kita melanjutkan perjalanan ke daerah Dago buat ngejemput Ikhfa dan bertemu dengan seorang EO yang udah janjian sama Afdhal untuk membicarakan event UPBM. Berangkat lah kita ke Dago Tea House, kita sempet ngelewatin razia polisi di deket SMP 22. Kita juga melewati SMA nya Wimal SMA 19, dengan bangga dia menujukan gang masuk ke SMA nya. Sampe juga kita di Dago Tea House, kita janjian ketemuan sama Ikhfa di patung cepot. Datanglah dia akhirnya, lalu kita masuk ke areal parker Dago Tea House untuk bertemu dengan seorang EO. Kita menunggu setengah jam beliau belom juga datang, akhirnya setelah kira-kira satu jam akhirnya beliau dating juga, sampe kita sempet foto-foto sama makan siomay dulu.


Dan akhirnya si bapak EO pun dating, tapi negosiasi kayaknya berjalan a lot dan berjalan cukup lama. Akhirnya Wimal dan Aul pun memutuskan untuk narsis lagi.

Akhirnya negosiasi pun berjalan lancer walaupun menyita sedikit waktu. Berangkat lah kita melanjutkan perjalanan menuju Lembang lewat Dago Bengkok, sebenernya ini ngelewatin rumahnya Ikhfa. Kita melewati medan yang terjal. Awalnya kita melewati perumahan tapi makin kesini kita jadi harus berjalan diantara jurang dan tanjakan yang curam. Mobil sempat ga bisa nanjak sekali di salah satu tanjakan, mungkin ini terjadi karena Wimal duduk di bangku paling belakang. Turun lah kita semua dari mobil dan membiarkan Afdhal mengatasi situasi ini. Kita ber-7 harus berjalan menanjakin tanjakan curam itu. Ikhfa terlihat ripuh saat berjalan.

Setelah sampai dijalan yang sudah datar kita melanjutkan perjalanan kembali. Kita melewati Lembang, seperti biasa di perempatan tugu di Lembang selalu macet, untungnya tidak terlalu parah. Kita berjalan melewati Cikole, disana ada tempat paint ball tapi keliatannya area peperangannya kurang luas dan mengasyikan dan harganya pun ga mendukung. Disaat yang sama Afdhal dan Isan lupa ngambil uang di ATM, terpaksalah mereka turun lagi ke Lembang dan kita sisanya berenam menunggu di pinggir jalan sambil nyobain jembatan gantung.
Perjalan dilanjutkan kembali ketika Afdhal dan Isan datang menjemput. Kita akhirnya memutuskan untuk ke Sari Ater, Subang. Disana kita bisa masuk dengan sedikit lebih murah tarifnya, karena ada sodara Ikhfa yang mengurus. Tapi sebelumnya kita harus mencari bengkel sodaranya dulu. Setelah menemukannya kita harus menunggu negosiasi yang dilakukan oleh Adel dan Ikhfa denga petugas bengkel agar bisa masuk dengan sedikit murah. Sambil menunggu Wimal mengusulkan sebuah nama untuk tim perang paint ball nantinya, namanya yaitu “PARALON”. Aneh tapi keren juga sih menurut gw :D. Negosiasi pun kelar, kita senang dan udah ga sabar banget pengen maen paint ball.

Sampe lah kita di Sari Ater, Subang. Kita masuk lewat jalan belakang biar masuknya murah. Dan ternyata emang murah, 54 ribu buat 8 orang. Masuk lah kita kesana dengan hati riang gembira. Pokonya lupa aja sama semua masalah di semester 5 hahaha.

Sebelum berperang kita diberi instruktur terlebih dahulu. Kita mempersiapkan dirik dengan segala macam perlengkapan. Kita diberi body protector dan masker biar aman. Masing-masing dikasih 40 peluru, yang pelurunya abis dianggap mati. Peraturannya enak banget, jadi kita bisa maen lama. Pertarungan sengit pun terjadi. Tim di bagi dua, tim hitam dan tim loreng.
                                                                 Sebelum Perang
                                                                    Tim Hitam
                                                           Tim Loreng (Pemenang)
Pertempuran sengit pun terjadi, tim hitam menyerang duluan. Mereka lebih bernafsu untuk menyerang, mungkin karena Wimal berada di tim loreng. Karena tim hitam lebih akftif menyerang, mereka jadi boros pelor. Tim loreng yang bersabar menunggu akhirnya bisa mencuri kesempatan untuk menang. Tim hitam yang terus-terusan membrondong pelor ke tim loreng tidak menyadari kalo jatah pelornya Cuma 40. Akhirnya tim hitam pun terdesak karena kehabisan amunisi, dan akhirnya tim loreng memanfaatkan situasi ini. Akhirnya tim loreng pun menang dengan sisa 2 orang di lapangan. HOORAY! WHA A GAME! :D
Pertandingan berakhir setelah kira-kira setengah jam. Tapi pas di pertempuran mah seperti 3 jam. Situasi tegang dan merasa terancam mungkin yang membuat game ini terasa lama.


Setelah melewati pertempuran yang sangat melelahkan kita akhirnya memutuskan untuk makan, tapi di Punclut, Bandung. Kendali pilot sekarang dipegang oleh Wimal yang katanya dia tau jalan ke Punclut via Lembang. Tapi nyatanya dia lupa-lupa inget. Cara bawa mobilnya yang kayak supir angkot dangdut tersebut membuat Abdan yang duduk di bangku paling belakang merasa mual, hampir mabok dan muntah dia. Akhirnya sampe juga di suatu warung makan di Punclut. Penderitaan selama perjalanan dari Lembang yang di piloti oleh Wimal pun terbayarkan. Liat pemandangan ini bro!

Setelah kenyang makan dan pada KO semua gara-gara sambelnya yang pedes banget. Kita memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi kita harus melewati jalan yang horror, kali ini kita melewati jalan yang kanan dan kirinya adalah jurang yang curam. Ini asli horror banget, jalan gelap, licin karena hujan, sepi, pokoknya spooky banget deh. Setelah melewati areal horror tersebut kita melewati sebuah sekolah internasional, dan disekitar situ ada spot bagus untuk foto-foto, turunlah kita untuk foto-foto sebentar. Sebelumnya ada masalah sedikit dengan satpam setempat karena kita (tidak sengaja) menginjak rumput. 

Sungguh petualangan satu hari yang indah.

"Berkesan banget lah! PARALON!! haha.", kata Wimal.
"Pokonya terimakasih yang udah nembak aku yah :) nice sekali.", kata Adel.
"Ga nyesel deh urang harus nyogok pacar demi acara ini.", kata Isan. 
"Baru kali ini yah gw diajak maen bareng-bareng kayak gini, dan rame banget.", kata Abdan. 
"Terima kasih banget kawan-kawan :).", kata Afdhal.
"Wow besties 2012!", kata Ikhfa.
"Keren banget lah pemandanganya!", kata Aulya.
Kalo kata gw sendiri sih, ini awal taun yang keren! :D








Jumat, 30 Desember 2011

Cerita Semester 5


Alhamdulillah semester 5 (katanya) udah berakhir hari ini Jumat 30 Desember 2011..
Semester ini lumayan menguras tenaga. Semester ini dimulai dengan indah dan semoga aja diakhiri dengan indah pula. Gw rasa hari ini semester 5 itu belom berakhir. Seperti masih ada sesuatu yang belom gw lakuin di semester ini, apa itu? gw juga gatau. Berikut gw mau nyoba ngeringkas cerita semester 5 yang katanya "sadis", sampe-sampe ada yang mau coret-coretan kayak anak SMA waktu semester ini (katanya) berakhir, konyol banget, tapi gw setuju dengan ide itu haha

Semester 5 itu sebenernya nyolong start, karena salah satu mata kuliahnya ada yang mulai duluan, kalian tau itu apa? PKL...
Gw sempet iri karena temen-temen gw udah berangkat PKL duluan dari pada gw, gw nganggur dulu sebulan A.K.A. telat sebulan gara-gara pembimbingnya berlayar, pacar gw waktu itu aja udah berangkat ke jawa timur. Makin bete ditambah dengan masalah harga kosan gw yang naek drastic, gw diusir secara halus waktu itu, tapi gw sabar (waduk)

Ada satu kesalahan besar yang telah gw lakuin waktu awal-awal semester 5 ini, sebenernya sih masih libur semester 4 waktu itu, gw udah nuduh yang nggak-nggak ke temen gw. Bodohnya gw, waktu itu gw sampe ngupdate status di facebook segala. Sebenernya ini tentang kisah di postingan gw sebelumnya yang judulnya responsi fisika.
Gw beberin semuanya disini :
Jadi awalnya gw berempat bareng afdhal, uda, sama allin udah ngetag duluan di tempat PKL, tiba-tiba elma datang dan langsung diterima PKL di tempat itu sedangkan kita berempat harus menunggu satu bulan dulu waktu itu emosi gw ga ketahan lagi, hal bodoh pun gw lakuin, gw update status yang memojokan dia, awal-awalnya sih gw cuek aja, watados (wajah tanpa dosa) aja. Lama kelamaan gw sadar tindakan gw tuh parah banget! sadis, kejam, tidak berperasaan, tidak berperi kemanusiaan, tidak menghargai wanita banget lah pokonya. Akhirnya di malam sebelum memasuki bulan ramadhan gw minta maaf sama dia, tapi lewat sms, sieun euy (cupu). Dia sih kayaknya maafin, tapi asli sampe sekarang, sampe detik ini gw nulis blog ini gw masih merasa bersalah.
By the way, kita berlima keliatan keren kan? :D




Itu baru awal dari semester 5 yang (katanya) berat. Setelah lebaran, perkuliahan di kelas pun dimulai. Seperti semester-semester sebelumnya, masih sedikit yang masuk di awal-awal perkuliahan mah, masih pada di kampung masing-masing pastinya. Gw aja belom kelar PKL pas perkuliahan udah dimulai.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, satu bulan kuliah, belom ada tantangan yang berarti. Masing tugas-tugas ecek-ecek yang berdatangan. Gw juga masih sempet ngebagi waktu buat latihan band. Masih bisa tidur malem dengan tenang tanpa ada beban. Masih bisa merencanakan penyergapan ulang taun temen-temen gw. Gw sempet sedih juga karena Eka Ramdhani seorang mascot Persib harus pindah tim ke Persisam Samarinda, kalo Gonzales pindah ga apa-apa dah.

Ujian baru mulai datang ketika tugas MPPS tentang UP datang. Mahasiswa blah bloh kayak gw kok ditanya mau neliti tentang apa ntar, materinya belom diajarin semua. Suka aneh emang dosen. Penderitaan pun berlanjut ketika praktikum ekotoksikologi dimulai. Sebenarnya praktikum di laboratoriumnya mah ga terlalu ngerepotin, malah gw menikmatinya, tapi laporannya itu loh. Harus bisa meloloskan diri dari revisi dari asdos-asdosnya. Gak jarang temen-temen gw pada depresi dibuatnya. Praktikum ini juga mengadakan fieldtrip ke Dayeuh Kolot, neliti tempat penyaringan air limbah gitu deh. Nih ada gambarnya :



Waktu pun terus berlalu, gak kerasa banget udah masuk bulan Desember. Gw dapet sajak keren dari temen gw Inggi Qariba yang dia pasang sebagai statusnya di awal bulan. Gw kutip deh ke update status gw dengan izin dari dia dulu pastinya. Berikut cuplikannya : 

Pada bulan ini dilakukan fieldtrip kedua, yaitu ke Tanjung Lesung. Ini pengalaman pertama gw jadi panitia fieldtrip. Gw disuruh jadi koordinator bis. Dan juga jadi tau perasaannya anjing penjaga di film shaun the sheep. Susah banget ngatur kumpulan orang dalam jumlah yang banyak. Berikut gambarnya :




Rame pisan lah pokonya waktu ke Tanjung Lesung. Rasa capek pun terbayarkan dengan kesenangan hati (waktu itu). Tapi mendadak bete ketika pulang, karena diwajibkan untuk membuat laporan. Lapora lagi laporan lagi kan!

Dibulan ini perjuangan sampai titik darah penghabisan emang bener-bener terjadi, karena selain dapet tugas-tugas aneh seperti yang disebutkan diatas kami dihadapkan oleh UAS. Inilah jadwalnya :
Jujur sejujur jujurnya gw baru download gambar jadwal uas ini barusan, pas gw lagi nulis blog ini. Temen-temen gw sebagian besar menjadikan gambar ini sebagai gambar di desktop komputer atau laptop mereka. Tapi gw pikir ini ga usah, karena gw udah bikin jadwal di kalender gw yang bergambarkan wanita berbikini. Kenapa? karena itu lebih membuat semangat menurut gw.

Dibulan ini juga gw bisa bikin lagu. Waw! itu adalah lagu yang pertama yang gw bikin selama gw hidup di dunia. Lagu itu terinspirasi dari ulang taun seorang temen. Lagu bisa diliat di postingan gw yang sebelumnya.

Semester yang menantang bukan?! haha
Semoga aja perjuangan gw sama temen-temen gw di semester ini ga sia-sia.